Rabu, 08 Oktober 2014

HOMETOWN GLORY

Bukan judul lagu pastinya. (re : hometown glory - Adele)

Kali ini gue akan berbagi cerita mengenai perjalanan gue beberapa bulan yang lalu (lupa tepatnya bulan apa, April 2014 mungkin) ke kampung halaman.

Berbicara sedikit mengenai kampung halaman, kita semua pasti punya kampung halaman. Dan beberapa dari kita mungkin ada yang sering balik ke kampung halaman dikala liburan atau lebaran, ada yang jarang, bahkan ada yang belum pernah. Gue termasuk orang yang jarang ke kampung halaman. Bukan karena sombong, tapi jauhnya itu loh. Hampir lupa kapan terakhir kali balik ke kampung, mungkin 5 tahun yang lalu.

Tapi...................
Puji Tuhan tahun ini, tahun 2014 gue dan sekeluarga (minus kakak, yg berhalangan ikut) berkesempatan dan menyempatkan diri untuk muleh. Kali ini memang ada selebrasinya dateng ke kampung, ziarah ke makam Opung dibulan paskah kemarin.


Sibuk aja daritadi ngomongin kampung halaman, tapi gue belum mention dimana kampung halaman gue. Palipi, Toba, Medan adalah letak kampung halaman gue, bener - bener kampung asal muasal opung - bokap beserta sanak saudara lainnya yang sangat susah gue jabarkan relasi nya dimana. Karena udah berkali - kali dijelasin bokap juga ga inget - inget dan gak ngerti ^_^ 


Kali ini tiba dibandara Medan yang baru yaitu, Kuala Namu. Memang bukan pertama kalinya gue nyentuh bandara yang baru. Tapi ini pertama kalinya gue nyobain jasa kereta kuala namu menuju kota. Perlu merogoh kocek sekitar 60 - 70rb, lupa persisinya berapa karena waktu itu bokap yang bayar. hehe. Perlu di ancungi jempol sih sama bandara ini apalagi fasilitas stasiun keretanya. Gue aja orang Jakarta jadi udik. Berdiri dinding - dinding tinggi yang terbuat dari kaca transparan. Gak hanya dari segi desain saja yang sudah modern, tapi kebersihannya perlu diberi pujian. Karena bandara dan stasiun kereta nya terjaga kebersihannya. Satu sih tapi masukan menurut gue untuk Bandara Kuala Namu ini, harusnya meskipun tetap modern tetap diberi sentuhan khas medannya.

Foto dibawah akan sedikit menggambarkan beberapa part dari stasiun kereta yang berada di Bandara Kuala Namu, Medan. Then my journey start here......................



 

Seperti yang udah - udah, ketika nyampe di Medan kami sekeluarga menyempatkan diri makan di Soto Sinar Pagi yang terkenal itu. Entah kenapa soto itu terkenal dan rame banget. Padahal menurut gue biasa saja, bukannya gak enak lho, tapi mungkin di Medan soto itu udah paling t.o.p dibanding soto - soto yang lainnya.

Setelah makan siang, kita langsung berangkat menuju rumah opung (alm) di Jl. Sisingamangaraja, Simpang Limun, Medan. Ahhhhhhhh... gak ada yg berubah dari rumah opung. So homie........ Meskipun kondisinya udah gak kaya dulu lagi lingkungannya. Sudah banyak ruko - ruko di kiri dan kanan rumah opung, jadi banyak polusi. Cuman mampir sekitar 2 - 3jam kami sekeluarga langsung beranjak ke Hotel tempat kami menginap untuk beristirahat.


Keesokan harinya.........
Setelah sarapan, kami langsung bersiap - siap untuk perjalanan menuju kampung yang mungkin akan memakan waktu sekitar 8 jam-an. Difasilitasi 2 mobil dari kantor bokap tanpa supir. Yaaaapp, tanpa supir. Berarti bokap dan abang yg bakal jadi supir, dan kalau mereka cape? Aha'.... Gue!!!!
But, i always love to be AKAP Driver. hahaha. Belajar rintangan - rintangan baru dimedan yang baru juga.

Setelah melewati beberapa jam perjalanan, akhirnya kami sampai ditempat peristirahatan yang pertama, salah satu saudara kami, Gue manggilnya Opung Simarlopuk. Yang tentunya didaerah Simarlopuk. Sesuatu pengalaman yang udah lama gak gue alamin, tidur rame - rame pake tiker di ruang tamu beraroma pupuk kandang dan udara yang dingin bangeeeeet. Gak hanya istirahat dirumah opung, tapi ada beberapa adat batak seperti biasa yang dilakuin disana. Opung dan kami berdoa bersama agar pejalanan dilancarkan serta diberi berkah yang lebih dengan niat ini.
Keesokan paginya, ketika bangun cuman satu komentar gue "Ma, dingiiiin bangeeet". Gak kebayang ini bagaimana mandinya. ~ dan bener aja loh pas giliran gue mandi..... Jam 07:00 pagi dipegunungan/ dataran tinggi. bayangkan, ketika masuk ruangan kamar mandi aja gue bisa liat napas yg gue hembusin dari mulut maupun hidung. Yaaap, persis bgt kaya dimusim salju atau musim dingin di luar negri. Cool. Dan menjadi tidak cool ketika gue membayangkan apa yang akan terjadi ketika air dari gayung kena badan gue. And then ~ byuuuuurr... (seketika kulit mati rasa selama 3 detik). Dinginnya air di Simarlopuk bener - bener bikin kulit mati rasa pas pertama kali kena badan. Karena badan kita temperaturenya hangat dan airnya sangat dingin, alhasil ketika airnya kena badan, keluarlah embun atau asap dingin dari badan. Meejjiiikkkkk. setelah itu gak pake basa basi, daripada tambah dingin gue mandi kilat, jebar - jebur, keramas, sabunan, sikat gigi. Selesai. Mungkin mandi tercepat gue sepanjang masa. hahaha.. 

Singkat cerita mengenai mandi. Setelah mengalami pengalaman mandi yang luar biasa. Gue langsung bersiap - siap supaya bisa foto - foto dulu. Maklum, moment yang bakal jarang dirasain.

 Simarlopuk, Medan





Setelah menghabiskan waktu untu berfoto - foto. Kami pun segera berpamitan dengan Opung dan saudara - saudara lainnya yang berada disana untuk segera melanjutkan perjalanan kami. Kalau ngga salah, sekitar jam 10:30 pagi berangkat. Sejaam.. Dua jam.... perjalanan, kami melewati berbagai rintangan diperjalanan. Rintangan yg dimaksud adalah lika liku jalanan yang hampir 180 derajat dimana tidak ada pembatas jalan yang terbuat dari beton, tapi langsung jurang. Cool. Sampai disatu titik, gue lupa apa nama daerahnya, pada saat itu sekitar jam 12:30 siang dan pemandangan yang gue lihat adalah kabuuuut dingin menyelimuti jalan. YAA, kabuutt dingin, dan itu jam 12 siang. Bener - bener pemandangan yang gak mungkin ditemuin lagi. Panteslah ya orang daerah itu jarang yang pake atau punya tank top, secaraaaaa selalu dingin. hahaha. Gak lama, cuma sekitar setengah jam perjalanan kami diselimuti kabut dan kabutpun berakhir. Mungkin dataran yang kami lewati sudah tidak setinggi sebelumnya.


Jadi, untuk ke Palipi, Samosir ini bisa ditempuh dengan 2 jalur yang berbeda. Ada jalur biasa dan mengharuskan kita menyebrang dengan kapal ferry. Dan ada juga jalur lainnya dengan memutar pegunungan yang ada. Naahh, kami memilih jalur yang kedua. yaitu muterin gunung, that's why banyak ketemu kabut dingin. Alesannya adalah sudah lama gak pernah lewat jalur ini karena dari dulu kalau kekampung kami biasanya lewat jalur yang nyebrang pake kapal ferry.

Untungnya hari ini belum kedapetan jatah jadi supir. Jadi bisa bangun, tidur, bangun, tidur diperjalanan. Setelah beberapa jam...........

Bisa keliatan dari jauh pemandangan yang dulu pernah gue lihat. Seperti flashback, dan bener gak salah lagi. Ini udah mau sudahhhh sampe. "Pa, udah mau nyampeee yah?"Tanya gue. "Iyaaaaa, tuh liat depan. masa gak inget"." Jawab bokap. Deehilee pa, yaaa lupa lupa dikit keleeesss (ngomong dlm hati) hahaha.

Akhirnyaaaaaaaaaaaaaa~~ We finally arrive.. At our home town. Glory!!


Palipi, Samosir, Toba, Medan.

Bisa terlihat dari jalan, kiri adalah sawah membentanggg luaaas dan disebelah kanan kami adalah danau toba yang hampir sejajar dengan jalanan. What a wonderful view! Dan bisa terlihat juga ditengah - tengah sawah ada tugu makam opung kami.
Untuk sampai ketengah tungu kami harus melewati beberapa rintangan, yup karena yang kami lewatin adalah sawah. Kejadian yang dialamin ya apalagi kalau bukan kasus ban terselip di tanah.




See? Seruuuu banget. hahaha. Bukannya panik, tapi kami semua menikmati moment - moment ini. Para bapak - bapak sibuk cari akal supaya ban bisa lepas dari tanah maut, hahaha. Sementara para ibu - ibu ada yang sibuk foto - foto ataupun ngunyah ngemilin makanan didalam mobil. ladiessss...

















Dan gue? 
yaaaaa foto - foto lah. hahaha


So, this is it my home town glory!!! PALIPI, Samosir.

Pas upload foto ini kedalam social media bernama PATH, yang ngasih loveee banyaaaaakkk banget hampir lebih dari 50 orang mungkin. hahaha. Mungkin mereka ngelove karena :
1. Gue jalan - jalan ketika mereka sedang menjalani rutinitas membosankan di Jakarta.
2. Pemandangannya yang bagussss banget.
3. Gue nya cantikkk difoto ini.
4. Sawah yang hijau, atau
5. Semua jawaban diatas benar.

Gue lebih prefer no. 2 & 3. hahahaha, :)


















Okey, baccccccckkkk to topic.
Gak memerlukan waktu yang terlalu lama, akhirnya ban mobil udah bener, dan tinggal beberapa meter lagi kami sampai di tugu makam opung.

Sesampainya ditugu makam opung. Gak bisa dipungkiri kalau hati ini kangeenn banget sama Opung. Hi Opungggg :) sesosok yang gue percaya pasti sejak beliau dipanggi Tuhan, mereka berdua selalu ngejagain gue ~

Kami pun segera menggelar tiker dan duduk bersama disekitar tugu untuk berdoa bersama. Beberapa dari kami ada yang nangis karena kangen sama opung, terutama papa dan namboru. Setelah melakukan berbagai ritual ibadah, kami pun berfoto - foto kembali. As usual...........


Cici - Inanguda Kris - Namboru Andre - MAMA - Namboru sidikalang - Gue :)

Makam Opung Doli - Opung Boru. :)

Selfie bersama tugu dari makam opung.



Gak kerasa, sudah sore dan matahari sudah agak ngumpet - ngumpet dibalik awan dan gunung. Kami pun memutuskan untuk mampir kerumah saudara yang letaknya gak jauh dari tugu makam untuk beristirahat. Tidak lama darisana kami segera melanjutkan perjalanan balik ke rumah Namboru di Sidikalang untuk bermalam nginap sebelum melanjutkan perjalanan balik ke Medan, karena hari sudah malam. Hayoooo tebak kalau udah malem gini siapa yang jadi supir? Yaaaaaaaa pasti gue. wohooo! finally my part is coming... kasian juga sama bokap karena udah nyetir dari pagi. Tapi bokap bukannya tidur selama perjalanan, dia malah dengan setia nemenin gue yang lagi nyetir sementara nyokap dan adek udah ngorok di jok belakang.




Keesokan paginya, sebelum balik ke Medan, kami penyempatkan diri untuk berwisata ke Bukit Kasih di Sidikalang. Suatu pemandangan yang menyejukan mata. Meskipun dilapisi oleh terik matahari yang sangat menusuk kulit. Di Bukit Kasih ini kita bisa melakukan Jalan Salib. Ngga hanya jalan salib, tapi kita juga berdoa dibawah Patung Bunda Maria disana dan patung Salib Yesus Kristus. Untuk masuk ke Bukit Kasih ngga ngeluarin biaya yg mahal kok, hanya beberapa ribu kalau tidak salah. Kita juga diberi tempat untuk berdoa didalam goa dengan suasana yang sangat sepi dan tidak bising sama sekali. Jadi pas banget untuk kalian - kalian yang pengen berdoa dengan kusyuk.



 






















Tidak terasa, beberapa hari telah dilalui. Dan hari ini adalah hari terakhir dari perjalanan kami diedisi pulang kampung kali ini. So glad to be here, and i hope that i can be here again. SAMPAI JUMPA DILAIN KESEMPATAN HEY HOMETOWN, SAMPAI JUMPA OPUNG :)



"Satu hal yang gue pelajari dari perjalanan kali ini. Kita sebagai manusia sama di mataNya, setinggi apapun jabatan kita, secantik apapun paras kita, like they said dust to dust.... Keep Humble People :)"



 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar